2 Faktor Pembentuk Bangsa (Makhluk Individu dan Sosial)

Sebuah bangsa terdiri dari masyarakat, wilayah, pemerintah yang berdaulat serta pengakuan dari negara lainnya. Ini merupakan unsur yang harus terpenuhi jika ingin membentuk bangsa dan yang paling penting adalah adanya masyarakat atau manusia. Manusia memiliki dua peran yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.

Faktor Manusia dalam Terbentuknya Bangsa

Secara bahasa, kata “manusia” terdiri dari dua bahasa, ialah bahasa Sanskerta serta bahasa Latin. Dari bahasa Sanskerta, kata “manusia” bersumber dari kata manu, namun dalam bahasa Latin, kata “manusia” bersumber dari kata mens.

Kedua sumber kata tersebut memiliki arti berakal budi. Berlandaskan secara bahasa tersebut, mampu memberi arahan mengenai hakikat manusia yang sebenarnya. Arah ini juga yang dapat membedakan antara manusia dengan makhluk yang lainnya yang telah Tuhan ciptakan.

Secara fitrah, manusia diberikan akal, pikiran, perasaan, serta keyakinan, sehingga mempunyai kualitas hidup. Begitupula dengan manusia adalah ciptaan Tuhan yang Maha Esa yang memiliki derajat paling tinggi jika kita bandingkan dengan makhluk hidup yang lainnya.

Baca juga : Pengertian Ideologi Liberalisme, Sosialisme, Komunisme, Fasisme, Fundamentalisme

Dalam keberlangsungan hidup manusia, ia memiliki dua jabatan yaitu sebagai berikut:

1. Manusia Sebagai Makhluk Individu

Individu bersumber dari kata individere yang artinya tidak mampu dibagi-bagi atau sebagai manusia yang mampu berdiri sendiri atau manusia perseorangan. Yang menjadi makhluk Tuhan Yang maha Esa, yang mana semenjak lahir ialah sebagai makhluk pribadi yang terdiri dari jasmani serta rohani.

Jasmani memerlukan sandangan, pangan, serta papan, sementara rohani memerlukan sesuatu yang tidak diperlukan oleh jasmani misalkan keamanan akan rasa takut, perlindungan akan rasa ketidakadilan, serta kepercayaan ataupun keyakinan kepada Sang Pencipta saat terjadi sebuah kesulitan.

Setiap individu mempunyai keahlian potensial kodrati guna tumbuh serta berkembang, yang berawal dari kandungan ibunya, hingga lahir serta tumbuh kembang hingga dewasa. Pada esensinya,manusia ialah Homo sapiens (sebuah makhluk yang memiliki akal serta budi). Artinya adalah manusia yang memiliki pengalaman dan diberi jasmani serta rohani, yangmana kedua-duanya adalah kesatuan serta kominasi yang selaras yang disebut dengan pribadi.

Manusia mempunyai akal budi serta kehendak. Pada mulanya ialah sebuah potensi. Apabila dikembangkan secara terus-menerus maka akan terbentuk pribadi yang sempurna serta mampu tercapai tujuan eksistensinya. Maka dari itu memiliki hak-hak asasi, yaitu berupa hak-hak asasi manusia sebagai manusia.

Baca juga : Bentuk-Bentuk Penghargaan Terhadap Persamaan Kedudukan Warga Negara

Dia tidak hanya memiliki hak dalam memanfaatkan hak-hak tersebut, tetapi juga wajib dalam memanfaatkannya sebab dengan hal itu manusia mampu mengemban tugasnya serta mencapai eksistensinya.

Semenjak lahir, seorang manusia ialah seseorang makhluk yang individual, tetapi pada kehidupan nyatanya ia tidak mampu hidup sendirian tanpa memerlukan bantuan dari orang lain. Seperti seorang bayi yang selalu memerlukan bantuan serta perhatian dari seorang ibu agar mampu tumbuh serta berkembang.


Setiap individu memiliki keunikan (ciri khas) yang mampu membedakan antara individu satu dengan yang lainnya, keunikan tersebut bisa kelebihan ataupun kekuarangan yang dimiliki individu tersebut. Kekurangan yang dimiliki individu yang satu mampu dilengkapi oleh kelebihan individu yang lainnya. Dengan hal itu, maka semua hal tersebut dapat menjadi landasan untuk dapat menerima keberadaan serta kebutuhan dalam melakukan kerja sama dengan individu yang lain.

Seorang individu tersebut tumbuh dan berkembang di masyarakat di tempat mereka ada, yang dirasakan dalam kehidupan nyata serta secara spontan setiap hati. Semua yang dilakukannya, akan tetap membutuhkan dari individu yang lainnya.

2. Manusia Sebagai Makhluk Sosial

Berlandaskan pada pendapat Aristoteles serta Ibn Khaldun dalam bukunya yang berjudul “Ibn Khaldun, The Father of Economic” karya dari GN. Atiyeh, IM. Oweiss (1988), dimana manusia manusia tidak bisa hidup tanpa membutuhkan bantuan dari manusia lainnya serta dengan memanfaatkan daya pikiranya, mereka berusaha dalam memenuhi kebutuhan intinya, yang juga membutuhkan bantuan dari orang lain.

Agar dapat mempererat hubungan antara individu ang satu dengan yang lainnya dibutuhkan adanya komunikasi. Oleh sebab itu, kecondongan manusia untuk hidup yang serasi menjadi timba balik antara satu dengan yang lainnya sebab manuisa memiliki dua keinginan ialah untuk mampu berbaur dengan orang-orang yang berada di sekitarnya serta untuk mampu bersatu dengan alam yang berada disekitarnya.

Agar mampu mengahadpi serta menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berada disekitarnya, manusia menggunakan akal, perasaan,pikiran serta hasratnya. Dalam melawan alam yang berada disekitanya misalkan udara yang begitu dingin atau matahari yang menyengatkan panas, maka dari itu manusia memproduksi pakaian. Manusia memperoleh makanan yang berasal dari alam sekelilingnya dengan memakai akalnya, agar manusia tersebut tetap sehat dan produktif dalam melakukan aktivitas.

Keadaan serta situasi lingkungan seperti inilah yang akan menjadi motivasi manusia agar dapat bekerja sama dengan manusia yang lainnya. Secara sederhana, hal ini yang menyebabkan adanya dorongan terdapatnya kelompok sosial di kehidupan individu tersebut sebab tidak mungkin manusia mampu hidup tanpa orang lain. Kelompok sosial tersebut ialah sekumpulan yang membentuk kesatuan manusia yang mampu hidup bersama.

Dorongan manusia untuk senantiasa untuk mampu hidup dan bertahan dengan orang lain disebut dengan istilah gregariousress. Oleh karena itu, manusia disebuh juga dengan Social Animal (hewan sosial), atau hewan yang memiliki naluri agar mampu hidup secara bersama-sama. Naluri agar bisa hidup bersama terlihat dari manusia yang selalu menjadi satu kelompok dengan yang lainnya dalam sebuah masyarakat. Oleh karena itu, manusia selalu memanfaatkan pikirannya.

Berdasarkan pendapat dari Aritoteles serta Ibnu Khaldun, memunculkan asas bahwa manusia merupakan makhluk sosial. Kemampuan manusia dalam menumbuhkan dirinya hanya bisa diperoleh jika manusia tersebut berada dalam sebuah masyarakat. Manusia bisa disebut manusia apabila ia berada di dalam lingkungan manusia lainnya.

Sesungguhnya manusia hidup dalam bermacam-macam kelompok yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Awalnya, manusia hidup disebuah keluarga, kemudia berlandaskan pada kepentingan serta wilayah yang ia tinggali, manusia hidup di dalam kesatuan sosial yang biasanya disebut dengan istilah masyarakat (community) serta bangsa.

Demikian artikel yang saya tulis dalam kesempatan kali ini yaitu tetang terbentuknya bangsa dari makhluk individu dan makhluk sosial. Apabila terdapat kekuarangan, kesalahan ataupun pertanyaan, silahkan beri komentar dibawah ini. Semoga bermanfaat.

Originally posted 2018-05-23 15:17:10.


Leave a Comment